Tuesday, May 8, 2012

(Battle Poetry) Dibawah Pendar Bulan

(Battle Poetry) Dibawah Pendar Bulan

di bawah pendar bulan malam ini
angin merenda bisik jangkrik.
di papan jati hitam. ibu suri tengah berpakai tikai
oh, mata siapa yang pandang memandang?

seperti gemuruh badai
keidakkaruan suasana
ada bercak darah di lantai
bekas pemotongan puisi
mati bersimbah duka


Ruang Maya, 08 Mei 2012

*) Refila Yusra (tegak) - Ekohm Abiyasa (miring)

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/battle-poetry-dibawah-pendar-bulan.html

Menulis untuk Mendapatkan Ketenangan

Menulis untuk Mendapatkan Ketenangan

Tulisan itu banyak tafsir. Tiap kepala menafsirkan dengan caranya sendiri. Kepala satu yang dengan yang lain punya cara berlainan dan punya buah pemikiran atau pemahaman yang berbeda pula. Ga usah terlalu dibawa hati. Sebab itu akan menghancurkan tali simpul yang pernah terjalin.

Atau, kita pernah membaca bahwa melalui tulisan-tulisan, banyak tangan berkepal menuntut keadilan dan kemerdekaan. Meski tubuh dipenjarakan, tapi ide cemerlang selalu hadir membawa kobar api semangat perjuangan. Adakah yang mau mereferensikan bacaan itu kepadaku?

Semoga engkau paham, bahwa aku menulis bukan tentang kemarahan semata. Ada pula hal manis yang terluapkan. Itu adalah luapan batin saja. Ga perlu dirisaukan. Biar lega penat sampah yang ada di dada ini. Menulislah untuk mendapatkan ketenangan batin. Selain dulu pernah bermain dengan ruang sunyi biar damai. Menulis ternyata mampu meredam segala api yang membara. Menjadikan air sejuk diteguk. Menjadi segar kembali jiwa yang berserakan sampah-sampah.

Sebab pula menulis (terutama puisi) adalah manifestasi rasa, perasaan hati, emosional dan lain sebagainya yang berhubungan dengan hati dan mood. Namun tidak serta merta marah berlebihan atau dalam kenyataan. Tidaklah sering.

Sekali lagi ga usah dibawa hati. Anggap sebagai angin lalu saja. Baik-baik sajalah.

Jakal KM 14 Jogja, 08 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

Bunyi dan Rindu

Bunyi dan Rindu

ada bunyi
memanggil hatiku
ada ruang sunyi
bertumbuh rindu

di dada
segumpal asap
mengepulkan awan putih
seputih kapas

air gemericik
mengalir danau hati
dalam diam ada geletar sampai pada mata
hatimu jua terpaut
dalamdalam
dalam sunyi
ku

rinduku
bersemayam seperti seorang raja
di kahyangan
kekalkah nanti
aku memlih bersembunyi diri
kusembunyikan segala rindu yang pernah tumbuh pula
dihati yang tercabik

ada bunyi pula
menggeleparkan nadi
gemuruhnya
seperti badai pasir besar
di kamar sunyi
sendirian terkapar
dan
terbakar

Jakal KM 14 Jogja, 08 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/bunyi-dan-rindu.html

Wednesday, May 2, 2012

(Battle Fiksimini) Putri Mimpi

(Battle Fiksimini) Putri Mimpi

Disini manusia memiliki nama dan wajah yang serupa. Sssstt.. Kamu tau? Penjaga mimpi sering tertipu. Dia mengira aku akasia padahal akasia itu ada di belakangnya.Hmm..Penjaga itu mulai amnesia! Aku suka memperolokkannya dengan sapu ijuk. Kamu tau ijuk? Itu yang sering di pakai nenek sihir. penjaga mimpi, takut dengan itu. Karna nenek sihir suka lupa pake gigi.
"Oooow..! Aku ngumpet dulu ya. Penjaga mimpi mulai mendekati persembunyianku"

Ssssttt..

* * *

Jadilah putri yang tegar. Kala malam mencekam sunyinya. Datang pula si penjaga.
"Sudah waktunya berbenah!" teriak sang penjaga.
Duh, mana aku lupa menyikat gigi ini.
"Ya, tunggulah sebentar. Ada hal yang harus kupersiapkan sebelum memulai pertunjukkan ini".
Kemudian aku mulai mencari nama-nama yang ada dalam kotak ajaibku. Hahaha.. Ketemu. Aku kegirangan.
"Hm... Kenapa harus dia..??"
* * *

Kamu harus berani mengucap nama itu. Sebab nama adalah sesuatu yang asing disini. Karena asing, jadi itu nilainya jika dibawa ke anak TK 10. Jika ke anak SD 100, dan seterusnya. Nama di sini memang suatu yang menggiurkan. Hanya untuk mendapat nama, anak beranak di sini jadi gila. Dia lupa kalau nama adalah petaka. Oh, pepatah siapa yang membudak..

* * *

Bukan dia yang membikin, si penjaga itu! Oleh sebab keserakahan masing-masing kita. iyakah? Sang penjaga hanya menjalankan titah sang gelap. Putra kegelapan ketika kita memejamkan mata.
Diam-diam kita sering meminjam kosakata asing buat menutupi jejak. Dalam pementasan semu pula melanturkan lelaguan dan bebunyian.
"Awas si nenek sihir datang!".
Kita menyergap pepohonan. Aduh rindangannya.
"Terima kasih pohon, kamu telah menyelamatkan kami".
Aku pikir ini tempat yang bagus buat bermain-main ketika senja tiba.
"Oh ya, namamu siapa pohon?"

* * *

Sssstttt.. Kita jangan sembunyi di bawah pohon itu. Setidaknya jangan akasia. Dia memang rindang seperi Albizia sama yang juga rindang. Tapi ingat, di rindangnya banyak kecoa..Mereka suka anak kecil seperti kita. Nenek sihir juga suka, tapi kecoa lebih beringas..Dia mampu menjadikan alam raya kotor. Bauk!
"Ah, sudahlah..Sebutkan saja siapa namanmu???".

* * *

Tidak, kupikir kamu akan tahu suatu saat nanti. Bila tiba waktunya kau akan tahu sendirilah. Perihal apa dalam pertunjukan nanti. Ada banyak hal yang harus kusimpan dan kupelajari sendiri dulu. Kau tidak bolehlah tahu dahulu. Itu bisa celaka. Langit murka dan menurunkan panah-panah hitam seperti ijuk yang marah pada bumi. Melesat cepat bak peluru menghujam tanah.
"Kau tidak inginkan tanah hijau ini jadi rusak oleh sebab hal-hal kecil yang belum waktunya kau ketahui?".

* * *

"Oya, aku belum bilang padamu kan?".
Bahwa penjaga mimpiku ini wajahnya serupa raksa--mercuri yang teramaaaat putih. Dan mimpi kerap terbohongi, kalo panjaga ini jubahnya bertato akasia. Kau tahu tidak? Di balik jubahnya ada merpati. Banyaak sekali. Pernah aku meminta satu merpati. Tapi dia bilang, "Ini bukan mainanmu, dik!" aku kesal!.

Ruang Maya, 03 Mei 2012

Tuesday, May 1, 2012

Mementaskan Sendiri

Mementaskan Sendiri

ketika malam menghampiri
ada kalanya gairah menyergap tubuh
ditimpuh kepingkeping sunyi
dan dikebiri sendiri
ia menarinari mementaskan perjalanan jauh
seorang gelisah berdandan ala petruk
sebab ruh tubuh telah menjauh pula
pada Ruh Sejati
dimana ia akan mencarinya
oleh hujan akan berkelana sedapatnya
kemana kaki menghentak
kemana angin berhibak

ketika malam hendak lari
ia menjumpai aura sebelum mati
sempat bercakap mengenai materi dan dunia
apakah pantas ia raih atau tinggalkan
dunia dongeng dan dunia mimpi

sepertinya ia hanya sanggup mengeja huruf orang lain
sebab tak mampu ia memetakan hidupnya sendiri
terlalu lama berasyik diri membuat matahari terlalu cepat berlari
menuju ruang dan dimensi lain

akankah ada teman bernama setia
kemana dan bagaimana malam berteduh
o, dia tersenyum sendiri
menyaksikan tubuhnya babak belur dihajar gada malaikat

Jakal KM 14 Jogja, 01 Mei 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/05/mementaskan-sendiri.html

Melati Sunyi

Melati Sunyi

semerbak melati sunyi
di ruang kelana

beranda patah yang terjaga
romantika sepasang kekasih

berjelaga kian muram
ditepi hati yang bersemi

rerintik hujan membawa beberapa larik rindu
pada tebal bibir seorang pemanggul kata
ia taburka sedikit kisah pada hidupnya
melati sunyi yang ranum
wajahnya mengental dalam hati

sekian waktu berapa lama ia akan terjaga
menjaga yang ia cinta

duhai pemanggul kata
ikhlaslah memelukku erat
dalam pertapaan rona jingga
yang kian berat kala matahari berpendar cahya
yang sunyi beralamat pada hati seorang saja
dia
melati sunyi yang kurindu dan kunantikan suatu saat

Karanganyar Solo, 30 April 2012

*) Ekohm Abiyasa

http://serampaikata.blogspot.com/2012/04/melati-sunyi.html

    Blogger news

    Blogroll

    About